Adu Kuat Narasi 'Sepuluh Hari' AS Vs Iran
- ANTARA/X
Kendati demikian, Wendt memiliki konsep “Hobbesian Culture” –budaya musuh. Di mana kedua pihak saling menganggap lawan sebagai ancaman eksistensial. Dalam adu narasi sepuluh hari tersebut, keduanya bisa kalah. Pertama, jika tenggat waktu berlalu tanpa solusi diplomatik yang berarti dan hanya memperparah kebencian, maka keduanya sama-sama kalah karean mereka terjebak dalam struktur anarki yang merusak tatanan global –di mana keamanan satu pihak selalu berarti ancaman bagi pihak lain “security dilemma”.
Kedua, Wendt menekankan bahwa dalam perang narasi, kemungkinan besar pemenang sejatinya adalah “konflik” itu sendiri. Karena narasi agresif kedua belah pihak justru semakin mengokohkan identitas mereka sebagai “musuh abadi”, yang membuat perdamaian jangka panjang menjadi semakin mustahil untuk dikonstruksi.
Ketiga, jika perang militer benar-benar terjadi, Alexander Wendt tidak akan melihatnya hanya sebagai tabrakan dua kekuatan fisik –jet tempur vs rudal, melainkan sebagai kegagalan total dalam proses rekonstruksi perdamaian dunia. Artinya perang militer adalah bukti bahwa anarki adalah apa yang dibuat oleh Negara “anarchy is what states make of it”. Dalam kasus ini, AS telah menjatuhkan pilihannya untuk menciptakan ”anarki” yang berdarah, sementara Iran secara otomatis akan membalas dengan cara yang sama. Dan pada akhirnya, pemenangnya adalah “rudal” yang ditembakkan sebagai kata-kata terakhir dari sebuah diplomasi yang gagal.
