Ancaman Ketahanan Energi 'Pasca - Ali Khamenei'
- IRNA
Kedua, terjadinya inflasi yang terimpor. Ahli ekonomi makro Bhima Yudhitira (CELIOS – Studies) menyoroti dampak kenaikan harga energi terhadap sektor pangan dan kemiskinan. Indonesia sebagai Negara kepulauan yang sangat bergantung pada trasportasi laut dan darat, dengan otomatis menambah biaya logistik dan menaikkan biaya angkut barang hampir semua rantai pasok menggunakan energi. Artinya, ketika biaya transportasi naik, biaya produksi industri manufaktur naik karena harga energi mahal, sementara daya beli masyarakat turun. Begitu juga dengan harga beras, cabai, dan daging di pasar tradisional akan ikut naik –ekonomi akan melambat.
Ketiga, rapuhnya ketahanan pasokan (suplly scurity). Jika meledaknya harga disertai dengan penutupan selat Hormuz, para ahli energi memperingatkan soal fisik pasokan. Yaitu bukan lagi soal harga mahal, melainkan barangnya tidak tersedia di pasar, dan kilang-kilang dalam negeri bisa mengalami penurunan operasional karena minyak mentah (crude oil) tidak bisa beroperasi –di selat Hormuz.
Darurat Energi dan Mitigasi
Konflik AS-Iran membuktikan bahwa keamanan energi kita tidak boleh tergantung pada wilayah yang bergejolak. Kemandirian energi bukan lagi hanya kebijakan populis, melainkan harus benar-benar diwujudkan. Hal ini sangatlah penting karena menyangkut instrumen pertahanan nasional yang paling mendesak ditengah kekacauan stabilitas global saat ini.
Fenomena ini mengingatkan kita pada pidato Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam acara pembukaan Energi dan Mineral Festival 2025. Ia mengatakan bahwa, kemandirian energi nasional merupakan agenda utama Presiden Prabowo Subianto. Selain berbasis hijau, energi terbarukan merupakan instrumen ketahanan nasional dan pertanda pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Energi terbarukan bukan hanya soal tren hidup, melainkan sebuah strategi mitigasi kedaulatan nasional. Dalam konteks ancaman krisis pasca meninggalnya Khamenei, strategi ini adalah satu-satunya jalan keluar yang harus ditempuh untuk memutus mata rantai ketergantungan kita pada energi golobal. Dalam teori ekonomi, strategi ini disebut sebagai decoupling (pelepasan hubungan) antara pertumbuhan ekonomi dengan konsumsi minyak impor.
Teori ini dipopulerkan oleh Tim Jackson. Dalam bukunya Prosperity Whthout Growth (2009), profesor asal Inggris ini memberikan kritikan tajam terhadap ketergantungan ekonomi pada pertumbuhan fosil. Atas dasar itulah, urgensi kemendirian energi sangat mendesak. Pertama, Dengan mengalihkan sumber energi dari impor minyak mentah ke sumber domestik yang tidak ada habisnya –seperti panas bumi, surya, dan angin, maka apapun kondisinya –merujuk ditutupnya selat Hormuz, pasokan listrik dan energi dalam negeri tetap terjaga karena sumbernya ada di bawah tanah dan di atas langit kita sendiri.
