Prabowo dan Idul Fitri 2026, Pesan Kedaulatan Batiniah dari Aceh
- Dok.Istimewa
Keselarasan antara keberhasilan fisik ( arus mudik) dan penguatan batin (Idul Fitri di Aceh) menunjukkan, serangan narasi global tidak mampu menggoyang pondasi dengan pendekatan pengalaman dan ilmu pengetahuan.
Ketertiban Batin dan Kedaulatan Sosial
Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa berakar pada ketenangan batin rakyatnya. Sebagaimana filosofi Jalaluddin Rumi menyatakan, kekuatan sejati muncul saat manusia menguasai "kerajaan batinnya". Idul Fitri menjadi momentum seluruh komponen bangsa, merebut kembali kedaulatan berpikirnya dari polusi informasi dan kebencian yang diproduksi oleh kepentingan global secara destruktif.
Jika batin rakyat jernih, maka narasi kebencian tidak akan menemukan tempat tumbuh subur, sekeras apa pun. Termasuk tekanan dari kelompok-kelompok atas nama gerakan sipil, meski terafiliasi dengan agenda asing.
Cendekiawan Seyyed Hossein Nasr menegaskan, ketertiban sosial adalah pantulan ketertiban batiniah manusia. Kesucian jiwa individu merupakan prasyarat mutlak terciptanya perdamaian kolektif berkelanjutan. Tanpa pilar spiritual kokoh, masyarakat mudah terombang-ambing arus ideologi pemecah belah.
Persatuan rakyat dan pemimpin saat ini adalah manifestasi kesatuan batiniah dalam memandang perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai celah untuk disintegrasi. Kepemimpinan kuat menjamin bahwa setiap kebijakan, mulai dari urusan logistik mudik hingga keputusan geopolitik masuknya Indonesia ke BOP, dapat dipertanggungjawabkan secara lahir dan batin.
Stabilitas nasional, dari kelancaran mudik hingga ketahanan pangan di pasar-pasar, bukti nyata terjadi sinkronisasi kebijakan berbasis data dengan keyakinan spiritual rakyat membuahkan hasil luar biasa.
Meneguhkan persatuan nasional seolah bentuk lain dari “ibadah sosial” tertinggi, dilakukan oleh pemimpin tegas dan rakyat cerdas secara spiritual maupun intelektual.
Kedaulatan batiniah telah teguhkan hari ini, apakah akan menjadi pondasi kuat menuju Indonesia lebih bermartabat? Jawabnya; tergantung bagaimana kita merawat kedaulatan lahiriyah dan batiniah berdaulat secara bermartabat, agar menjadi senjata baru yang dihormati di mata dunia. (*)
