Trump Sebut Iran Ingin Berunding Setelah AS Kerahkan Armada Tempur di Timur Tengah
- White House
Washington, VoxPop – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Iran telah berulang kali menghubungi Washington untuk membuka jalur negosiasi, di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Axios pada Senin.
Trump menyebut situasi dengan Iran "berubah-ubah" seiring pengerahan kekuatan militer AS ke wilayah tersebut. Meski demikian, ia meyakini Teheran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan.
"Kita memiliki armada besar di sebelah Iran. Lebih besar dari Venezuela," kata Trump, merujuk pada pengerahan kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah memasuki wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM).
Pada saat yang sama, Trump menegaskan bahwa jalur diplomasi masih terbuka. Ia mengklaim Iran secara aktif berupaya melakukan kontak dengan Washington. "Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tahu itu. Mereka telah menelepon berkali-kali. Mereka ingin berbicara," ujar Trump.
VoxPop Militer: Kapal induk USS Abraham Lincoln Angkatan Laut Amerika Serikat
- X/@US7thFleet
Seorang pejabat senior AS menguatkan pernyataan tersebut dalam pengarahan kepada wartawan beberapa jam kemudian. Menurut pejabat itu, Gedung Putih tetap membuka peluang negosiasi dengan Iran.
"Jika mereka ingin menghubungi kami dan mereka tahu apa persyaratannya, maka kami akan melakukan percakapan," kata pejabat tersebut. Ia menambahkan bahwa syarat-syarat AS untuk kesepakatan telah berulang kali disampaikan kepada Iran sepanjang tahun terakhir.
Meski membuka opsi diplomasi, Trump belum mengambil keputusan akhir terkait kemungkinan aksi militer terhadap Iran.
Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan Trump masih akan melakukan konsultasi lanjutan dan menerima opsi militer tambahan dalam beberapa hari ke depan.
Ketegangan meningkat setelah Trump hampir memerintahkan serangan terhadap target rezim Iran awal bulan ini, menyusul pembunuhan ribuan demonstran. Keputusan itu akhirnya ditunda, meskipun pengerahan aset militer ke kawasan tetap dilakukan dan serangan disebut masih menjadi salah satu opsi.
Di internal lingkaran Trump, perbedaan pandangan mencuat. Sejumlah tokoh garis keras mendorong Trump untuk menegakkan "garis merah" terhadap Iran, sementara pihak lain mempertanyakan efektivitas serangan militer dan lebih memilih memanfaatkan posisi lemah Teheran untuk mendorong tercapainya kesepakatan.
