Razia LGBT Disebut Hanya Gimik Politik Wali Kota Depok
- VoxPopnews/Zahrul Darmawan
VoxPop - Langkah Pemerintah Kota Depok yang bakal melakukan razia lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) kembali menuai kritik. Selain belum ada landasan hukum, kebijakan itu dinilai hanya sebagai gimik politik sang wali kota jelang ajang pemilihan kepala daerah.
Hal itu diungkapkan oleh salah satu tokoh pimpinan aktivis 1998, Rama Pratama. Ia berpendapat, hukum yang ada di Indonesia bukan menindak pada perilaku LGBT, namun menjerat tindakan pidana.
“Tapi kalau sudah membunuh, memperkosa itu yang akan ditindak. Nah bagaimana kejahatan itu bisa muncul, itu yang harus diantisipasi. Jadi bukan konteksnya razia seperti itu. Saya melihat itu hanya gimik politik saja,” katanya, Kamis 16 Januari 2020.
Rama juga mempertanyakan soal mekanisme razia LGBT yang akan dilakukan. “Mau seperti apa razianya saya enggak ngerti. Yang di razia biasanya kan pelanggaran hukumnya. Ini hanya gimik politik saja pada akhirnya. Saya enggak ngerti gimana nanti cara penegakan hukumnya,” tuturnya.
Namun demikian, Rama mengakui, persoalan LGBT ini menjadi salah satu kekhawatirannya, termasuk persoalan tingginya angka kriminalitas di kota itu.
“Ini sama dengan kegelisahan saya terhadap tindak kriminalitas, prostitusi yang ada di Depok. Kebayang ya Depok kota religius tapi apa sih yang ada di benak masyarakat Depok ini, kalau dalam konteks penggunaan medsos, yang terbesar itu soal kriminal,” ujarnya.
Rama menyebut, Depok masuk dalam empat besar tingkat keramaian di media sosial. Namun isi pembahasannya lebih banyak tentang pelanggaran dan tindak pidana.
“Penelitiannya ada itu. Dan ternyata yang terbesar itu prostitusi, kriminalitas dan lain-lain, nah itu yang meramaikan medsos. Itu yang ada di percakapan warganya dan ini ironis,” ujarnya.
Dia berpendapat, persoalan-persoalan tersebut terjadi akibat melemahnya kontrol sosial di tengah masyarakat, dan ini terkait dengan tata ruang yang tidak sesuai di Kota Depok.
“Pembangunan apartemen yang masif mengurangi kontrol sosial dari masyarakat sehingga tidak saling tahu, tidak saling tegur tahu-tahu ada bandar narkoba. Itu harus jadi perhatian agar perilaku kriminalitasnya menurun,” katanya.
