SOROT 430

Riuh Pekerja 'Tirai Bambu'

Pekerja asing asal China di Indonesia. (Ilustrasi)
Sumber :
  • VoxPopnews/ Aceng Mukaram

VoxPop.co.id – Sejumlah alat berat, mesin tambang, truk, dan kendaraan operasional tak lagi menderu. Tak tampak aktivitas para pekerja tambang yang biasanya gaduh dan riuh. Suasana menjadi sepi.

img_title Golf Modern Tak Lagi Soal Lapangan, Fasilitas Pendukung Mulai Jadi Perhatian

Pada areal tambang seluas 1.300 hektare itu, hanya terlihat tiga pekerja sedang duduk bersantai. Mereka menikmati hari di depan mes yang terletak dekat pintu masuk kawasan tambang PT MMP.

Aktivitas tambang yang dikelola sebuah perusahaan asal China di Pulau Bangka, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara itu, seolah mati. Tak ada kegiatan berarti pada Selasa siang, 4 Januari 2017.

img_title Kolaborasi Riset Dinilai Penting untuk Perkuat Penyusunan Kebijakan Berbasis Data

Satu di antara tiga pekerja yang terlihat hari itu, akrab disapa Tuan Yang, warga China. Ia menjadi pimpinan pekerja asal negeri “Tirai Bambu” itu. Bertiga mereka terlihat bersenda gurau menggunakan bahasa tanah kelahirannya. Tak satu pun di antara mereka yang fasih berbahasa Indonesia.

PT MMP sudah ada di Pulau Bangka sejak 2008, setelah perusahaan mendapat izin dari Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, untuk menambang bijih besi pada areal seluas hampir setengah pulau berukuran 4.778 hektare. Namun, warga sekitar lokasi tambang menolak.

img_title Sekolah Rakyat Indramayu Punya Lapangan Bola dengan Rumput Berstandar FIFA

Tambang bijih besi di Pulau Bangka yang mempekerjakan pekerja China.

Ketiga pekerja itu kini tak bisa bekerja. Mereka menanti kedatangan sekitar 30 rekannya dari China untuk melanjutkan penambangan. 

“Hanya ada dua atau tiga pekerja China yang ada di sini (Pulau Bangka). Yang lain mungkin pulang ke China. Kabarnya, pertengahan Januari ini mereka akan beraktivitas lagi,” kata Diana Takumansang, warga Desa Kahuku, Pulau Bangka, Selasa, 4 Januari 2017.

Selama bekerja, para pekerja akan tinggal di mes semi permanen yang terbuat dari triplek, rangka kayu, dan atap genting asbes. Dengan panjang sekira setengah lapangan sepakbola, mes ini terbagi menjadi 20 kamar seluas 9 meter persegi, yang berjejer menyamping seperti indekos.

Nantinya, 30 pekerja ini akan menjadi bagian dari 21.271 tenaga kerja legal dari China. Mereka tersebar di berbagai wilayah, untuk mengerjakan beragam sektor usaha seperti konstruksi, manufaktur, perdagangan, dan pertanian.

Pekerja asal China ini tersebar di berbagai wilayah. Di Sulawesi Selatan misalnya, mereka bekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Uap Jeneponto, pabrik semen di Kabupaten Barru, serta beberapa perusahaan di Bulukumba dan Pangkep, juga menggunakan jasa mereka. Umumnya mereka bekerja sebagai teknisi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut