- ANTARA/Muhammad Adimaja
VoxPop.co.id – Pagi itu, 20 Mei 2016, Maul bergegas menyalakan laptopnya. Waktu menunjukkan hampir pukul 10.00 WIB saat pria bertubuh besar itu membuka sebuah situs e-commerce. Saat itu toko online tersebut tengah melego iPhone SE seharga Rp99.000. Normalnya iPhone SE dibanderol Rp8.000.000 per unit.
Penawaran murah itu tentu tak disia-siakan Maul. Dan, kenyataannya Maul tidak sendirian. Situs e-commerce yang baru naik daun itu diserbu ribuan konsumen pada waktu bersamaan. Nyaris satu jam Maul berkutat di toko online ini.
Namun transaksi tidak pernah berhasil diselesaikan tuntas. Berkali-kali situs ini error. Sampai pengelola situs memasang pengumuman daftar 100 pemilik iPhone SE, ia tidak juga berhasil menyelesaikan transaksinya.
Maul tak kurang akal. Keinginan memiliki ponsel cerdas masih mengalir deras. Gagal membawa pulang iPhone SE, ia melirik smartphone lain yang ditawarkan di situs e-commerce asal China itu. Saat ia menemukan ponsel Xiaomi yang harganya lebih murah dibanding harga di pusat perbelanjaan, Maul tidak segan-segan memencet tombol ‘Beli’.
Maul mungkin hanya satu dari sekian ribu orang yang terhipnotis merek besar Apple dan angka 99.000. Dia juga salah satu dari sekian juta penggemar smartphone baru yang tertarik dengan iming-iming harga murah di toko online.
Tak hanya Maul, berburu smartphone murah juga dilakoni Ajeng. Wanita berusia 21 tahun itu mengaku baru saja membeli Xiaomi Redmi Note di toko online.
Selain iPhone, Xiaomi juga banyak diburu lewat transaksi online. Foto: REUTERS/Bobby Yip
Ajeng mengaku selalu membeli smartphone di toko online karena tidak perlu repot pergi ke sentra penjualan ponsel yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Hanya dengan memesan melalui toko online, bayar melalui mobile banking, maka handphone baru akan segera meluncur ke rumah keesokan harinya.
"Soalnya lebih murah beli di online daripada di toko resmi. Harganya malah kadang jauh lebih rendah dibanding harga pasaran," ujar Ajeng kepada VoxPop.co.id.
Murah memang selalu menjadi kata yang menarik bagi konsumen di Indonesia. Sayangnya, kata sakti itu kerap tidak diikuti dengan kualitas dan purna jual yang mumpuni.
