SOROT 424

Mereka yang Diabaikan

Ilustrasi tim gegana amankan benda diduga bahan peledak bom di lokasi
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Amirulloh

BNPT kunjungi keluarga korban bom Samarinda

img_title UU Anti-Terorisme Disahkan, Bukti DPR Tidak Menghambat

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menhunjungi keluarga korban bom Samarinda. Foto: BNPT

Dwi mendapatkan perawatan medis dan psikologis karena dia memiliki Buku Hijau, buku khusus yang diberikan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban agar korban terorisme bisa mendapatkan perawatan medis secara gratis. “Namun kami berharap pengobatan tersebut tetap berlanjut sampai kami benar-benar dinyatakan pulih. Karena dampak yang dialami sekarang sudah mulai terasa. Saya sering pusing lalu pingsan beberapa kali, dimana saja, dan kapan saja. Sering mual dan stres tiba-tiba, mata mulai kabur penglihatan, sering demam, sakit di leher dan punggung luar biasa.”

img_title DPR Sahkan Undang Undang Anti-Terorisme

Menurut Dwi, sikap pemerintah saat ini sudah sigap. Berbeda dengan apa yang dialami teman-temannya sesama korban teror di Yayasan Penyintas Indonesia, wadah bagi korban terorisme untuk saling membantu dan menguatkan.

Pemerintah Dianggap Abai

img_title RUU Terorisme Bakal Disahkan, DPR Minta PP Rampung 100 Hari

Minimnya perhatian pemerintah terhadap korban terorisme juga dirasakan Iwan Setiawan, korban teror di Kedutaan Australia pada 9 September 2004. Pagi itu, dia dan istrinya, almarhumah Halila, hendak ke klinik bersalin di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan untuk memeriksakan kandungan. Saat melintas di dekat Kedutaan Australia yang berada di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, terjadilah dentuman keras mengoyak apapun di dekat ledakan.

 “Tiba-tiba semua gelap, saya dan istri saya langsung terpental dari motor,” kata Iwan di kediamannya, Pondok Cina, Depok, Jawa Barat, Rabu, 23 November 2016.

Mengenang peristiwa yang terjadi 12 tahun silam itu, selalu mengembalikan kenangan pilu buat Iwan. Sambil bercerita, mata kiri Iwan terlihat berkaca-kaca.

“Waktu itu saya betul-betul hanya memikirkan istri saya, saya enggak pikirin tubuh saya mas. Saya bangun dengan posisi bola mata kanan saya sudah keluar dan terkatung-katung, itu saya pegangin dan saya masukin pakai tangan kanan saya tidak bisa. Saya tetap mencari istri saya dan saya lihat istri saya itu pelipis kanannya sudah berdarah, kemudian tangan kanan dan kakinya juga berdarah. Langsung saya datangi dan angkat istri saya, saya bilang mama harus kuat demi anak kita,” kata Iwan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut