Sejarah Monumen Pesawat Pembom ILLYUSIN Buatan Uni Soviet yang Pernah Perkuat TNI AL
- Dispen Puspenerbal
Semasa latihan, calon pilot ditempatkan di pangkalan AL Uni Soviet di Tokmak, Kirghizstan, dekat dengan perbatasan RRC (Republik Rakyat Cina), sedangkan navigator dan operator radio ditempatkan di Krasnodar lalu ke Primosko-Achtarsk, pantai timur Laut Azov, keduanya merupakan pangkalan AL Uni Soviet.
Awal tahun 1965, “Beagle” pesanan ALRI tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dari Pelabuhan Sevastopol, Laut Hitam. Sebelumnya kru pesawat dari pelatihan gelombang pertama sudah tiba di Indonesia sejak bulan November 1964. Sayangnya satu unit pesawat mengalami kerusakan parah dan tidak bisa dipakai sehingga hanya menyisakan 12 unit.
Pesawat "Beagle" ini diperkuat dengan empat kanon NR-23 kaliber 23 mm, (2 terletak di hidung dan 2 di turet ekor dioperasikan oleh tail gunner). Selain itu, senjata utama “Beagle” milik ALRI ini adalah sepasang torpedo konvensional berukuran kecil atau satu torpedo berukuran besar yang dimuat di dalam ruang bom.
Sayangnya pesawat ini tidak pernah diterjunkan dalam operasi militer dan pasca G30S, Dispenerbal mulai terasa kesulitan dalam menerbangkan “Beagle”, pasokan suku cadang dari Uni Soviet tersendat- sendat sampai akhirnya terhenti sama sekali.
“Beagle” milik ALRI terakhir terbang pada tahun 1970, dengan kehilangan lima unit selama pengoperasiannya, satu unit mendarat darurat di Pantai Banyuwangi, satu unit hilang saat latihan navigasi di Pulau Maselembo, dan tiga unit lainnya kecelakaan saat mendarat, dua di Bandara Kemayoran, satu di Lapangan Terbang Hasanudin, Ujung Pandang (Makassar) dan satu pesawat dijadikan monumen di Monumen di Taman Ir. H. Juanda, Bundaran Aloha.
Semoga kehadiran monumen ini dapat membangkitkan semangat pengabdian dan perjuangan kita demi masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.
