Difteri Tidak Pernah Hilang di Indonesia
- VoxPop/Muhamad Solihin
Artinya Kemenkes tetap mendorong agar kita menggunakan vaksin dalam negeri yaa?
Iyaa dong. Toh, 134 negara memakai vaksin dari kita kok, kenapa kita harus memakai vaksin dari luar kan.
Bagaimana anda menanggapi gerakan Antivaksin yang kian masif di media sosial?
Komunitas antivaksin memang mereka itu pemahamannya berbeda yaa dengan kita. Dan kalau kita lihat, komunitas antivaksin itu ada bermacam-macam bentuk ya. Artinya kita harus tahu dahulu, dia antivaksin itu karena apa? Ada yang dari sudut pemahaman agama. Ada yang dari sudut tidak mengetahui apa-apa, ada yang dari sudut pemahaman ekonomi, ada yang dari sudut pemahaman politik, ada yang mereka itu memang benar-benar tidak paham sama sekali tentang vaksin ini, dsb. Misalnya kalau dari sisi ekonomi, mereka yang antivaksin menilai ngapain pakai vaksin, vaksin itu tidak ada apa-apanya, vaksin itu adalah persaingan bisnis, dsb. Kemudian ada yang alasannya pemahaman agama, jadi banyak faktor sebenarnya gerakan antivaksin itu.
Jadi sebenarnya tidak bisa juga dipukul rata, bahwa gerakan antivaksin itu karena pemahaman agama. Ini yang memang yang menjadi salah satu kendala kita. Kondisi hari ini saya berharap mindset masyarakat bisa berubah. Karena tidak ada vaksin yang membahayakan. Dan dengan adanya ORI ini, mudah-mudahan mereka sadar, bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah salah. Karena sekali lagi saya katakan, yang namanya difteri adalah penyakit PD3I, penyakit yang hanya dapat dicegah dengan imunisasi. Tidak ada cara lain selain imunisasi. (ms)
