Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, M Subuh

Difteri Tidak Pernah Hilang di Indonesia

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dr. Mohamad Subuh
Sumber :
  • VoxPop/Muhamad Solihin

Ini yang menjadi kendala-kendala. Tetapi kendala-kendala itu bisa kita atasi dengan optimal. Artinya, komunikasi risiko kita tingkatkan, ayok daerah, tolong kalian berikan dong operasional, kami berikan vaksinnya. Berapa pun yang kalian butuhkan, kita akan hitung, kita cukupi vaksinnya.

img_title Irjen Ferdy Sambo: Polisi Nakal Ngapain Dibela, Pecat!

Kemudian juga, masalah berikutnya adalah obat-obatan. Itu juga masalah keterbatasan stok dunia ya, terutama untuk antidifteri serum. Tetapi insyaallah dalam minggu depan kita tercukupi stoknya ya, sehingga kita bisa lebih aman lagi dalam menangani kasus-kasus ini.

Lalu, juga ada hal lain lagi, yaitu belum tersedianya ruangan-ruangan isolasi difteri di beberapa rumah sakit untuk perawatan. Kita sudah menekankan kepada rumah sakit-rumah sakit, selama ada rumah sakit, ada dokternya, ada ruangan perawatan, itu bisa dijadikan ruangan isolasi untuk penderita difteri. Karena ruangan isolasi difteri tidak harus mempunyai spesifikasi khusus, tidak seperti ruang isolasi flu burung. Flu burung dia perlu tekanan negatif, ruangan yang tidak punya ventilasi ke luar, semua ventilasi ke dalam. Kalau pada difteri tidak perlu, karena penularannya tidak melalui udara, tapi penularannya dari air atau cairan lendir yang berasal dari tenggorokan atau saluran pernafasan yang sudah terinfeksi, beda dengan flu burung, itu ruangannya perlu tekanan negatif, tidak boleh ada ventilasi, karena itu bisa menular dari udara.
Jadi seharusnya tidak ada kendala juga untuk rumah sakit menyiapkan itu, tapi setelah kita jelaskan seperti itu, mereka sudah mulai terbuka.

img_title Irjen Ferdy Sambo: Jangan Viralkan Polisi Nakal, Lapor Propam Saja

Selanjutnya, kendala yang keenam, tentunya permasalahan diagnostiknya. Dia ada diagnosa klinis, ada diagnosa laboratorium. Nah, untuk laboratorium itu tidak semua laboratorium itu bisa melakukan pemeriksaan, terbatas sekali memang, karena ini kultur, dan membutuhkan waktu yang agak lama, kurang lebih 5-7 hari baru bisa keluar hasilnya positif atau negatif. Sementara yang kita tegakkan ini dari kriteria atau diagnosa klinis saja. kriteria klinis itu, begitu kita lihat ada selaput putih di tenggorokan, khas sekali bentuknya, tebal, mengkilat, kemudian ada pembengkakan di bagian leher, maka dokter mengatakan, “ini suspect difteri.”

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut