Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, M Subuh

Difteri Tidak Pernah Hilang di Indonesia

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dr. Mohamad Subuh
Sumber :
  • VoxPop/Muhamad Solihin

Pertama, enam bulan kehidupan dia sudah dapat imunisasi tiga kali. Kemudian pada usia 18 bulan, diberikan lagi imunisasi difteri. Kemudian di usia kelas 1 SD itu diberikan lagi, kelas 2, kelas 3 diberikan lagi difteri, itu total sudah tujuh kali. Nah, apakah itu semua sudah dilakukan? Kalau itu semua belum dilakukan, maka mohon maaf pasti penyakit difteri itu bisa terjangkit. Makanya ini semua harus dievaluasi, apakah mereka yang terjangkit itu semuanya sudah menerima imunisasi lengkap seperti itu? Apakah tercover? Itu semua yang kita evaluasi bersama-sama. Terutama bagi masyarakat tolong diperhatikan benar-benar anggota keluarganya apakah benar-benar menerima imunisasi dengan benar atau tidak. Jadi ini kita harus evaluasi semuanya dari A sampai Z nya, semua persoalan dari hulu sampai ke hilirnya kita evaluasi semuanya.

img_title Deret Penyakit Berbahaya bagi Bayi, IDAI: Difteri Itu Mematikan

Nah evaluasi ini harus dilakukan lintas sektoral, penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) ini tidak bisa hanya dilakukan oleh Kementerian Kesehatan saja, jadi semuanya harus bekerja sama untuk mengatasi masalah ini. Ada faktor lain yang jadi faktor pendukung. Faktor masalah lingkungan, faktor perilaku, juga faktor akses pelayanan, kita semua harus bekerja sama menangani ini. Semua multisektor harus terlibat untuk menangani Kejadian Luar Biasa ini.

Kemarin sudah dilakukan rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh Menkopolhukam. Kita bersama-sama menggerakkan sektor, ini suatu langkah yang bagus sekali ya, semua sektor dapat bergerak bersama-sama, menggalang kekuatan dalam mengatasi kejadian-kejadian ini.

img_title Miris, Lebih 200 Kota di Indonesia Risiko Tinggi Penularan Polio

Data terakhir ada 772 penderita difteri. Di daerah mana saja status KLB itu Pak?

772 penderita difteri itu adalah kejadian dari bulan Januari sampai Desember 2017 ya, kejadian paling besar sebenarnya adalah di bulan Januari, media tidak ada yang ribut, padahal kita sudah kasih tahu itu sejak bulan Januari itu, media cuek saja kan. Bulan Februari menurun jadi 92 kasus. Bulan Maret naik lagi menjadi 89 kasus. Jadi dalam waktu tiga bulan awal tahun 2017 itu saja sudah ada 300 kasus sendiri.
 
Itu 300 kasus sendiri dibandingkan bulan April sampai bulan Desember  2017 naiknya kan total 400 kasus. Sehingga pada bulan April 2017 saya membuat konsep kepada ibu menteri, “Bu Menteri, tolong diingatkan kepada daerah, ini hati-hati loh, difteri ini mungkin meledak menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).”

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Seorang Anak yang Diduga Terserang Difteri di Lampung Barat Meninggal setelah Dirawat
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut