Kapal Induk Amerika Serikat Tiba di Timur Tengah, Akankah Ketegangan AS–Iran Berujung Perang?
- TRT World
Seorang pejabat senior Iran pekan lalu mengatakan bahwa Teheran akan menganggap setiap serangan sebagai perang habis-habisan terhadap Iran.
Peringatan itu kembali ditegaskan Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin. Juru bicara kementerian, Esmaeil Baghaei, memperingatkan akan adanya respons menyeluruh dan menyakitkan terhadap setiap agresi.
Baghaei menegaskan Iran percaya diri dengan kemampuan yang dimilikinya sendiri. Ia juga menyinggung secara tidak langsung kehadiran USS Abraham Lincoln, dengan mengatakan,
“Kedatangan kapal perang semacam ini tidak akan memengaruhi tekad dan keseriusan Iran dalam membela bangsa Iran,” kata dia dikutip dari laman TRT World Selasa 27 Januari 2026.
Sementara itu, Uni Emirat Arab menyatakan pada Senin bahwa mereka tidak akan mengizinkan wilayah udara, daratan, maupun perairannya digunakan untuk aksi militer bermusuhan terhadap Iran.
Pangkalan Udara Al Dhafra milik militer AS yang terletak di selatan Abu Dhabi, selama ini menjadi pusat penting Angkatan Udara AS untuk mendukung berbagai misi utama, termasuk operasi melawan ISIS dan misi pengintaian di kawasan.
Masih pada Senin, pemimpin Hizbullah Naim Qassem mengatakan bahwa setiap serangan terhadap Teheran sebagai pendukung utama kelompok tersebut juga akan dianggap sebagai serangan terhadap Hizbullah. Ia memperingatkan bahwa perang baru terhadap Iran akan memicu konflik regional yang lebih luas.
“Menghadapi agresi yang tidak membedakan antara kami, kami juga menjadi sasaran dan bertekad membela diri. Perang terhadap Iran kali ini akan membakar Kawasan. Kami akan menentukan bagaimana bertindak pada saatnya nanti. Kami tidak netral,” kata Qassem dalam pidato televisi di hadapan para pendukungnya dalam aksi solidaritas untuk Iran.
Ia menegaskan bahwa cara bertindak akan ditentukan oleh dinamika pertempuran dan kepentingan yang terlibat.
