Pemakaman Ali Khamenei Bongkar Perpecahan Elite Politik Iran

Prosesi penghormatan terakhir bagi Ali Khamenei
Sumber :
  • ANTARA/IRNA-OANA

VoxPop –Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei yang digelar sejak Jumat kemarin disebut-sebut memperlihatkan adanya perpecahan di kalangan elit politik negara tersebut. Hal ini terlihat dari serangan kelompok garis keras terhadap presiden Iran Masoud Pezeshkian dan tim negosiator Iran.

img_title AS Kembali Serang Iran

Pada prosesi pemakaman yang digelar di Tehran dan Qom, sejumlah pendukung garis keras meneriakkan slogan-slogan bernada kecaman kepada Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Peristiwa ini dinilai mencerminkan meningkatnya ketegangan terkait arah kebijakan diplomasi pemerintah.

Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan Pezeshkian dikawal ketat oleh petugas keamanan saat melintasi kerumunan pelayat. Di tengah prosesi itu terdengar teriakan, "Matilah si kompromis." Video lain menunjukkan sambutan yang lebih keras kepada Araghchi. Massa meneriakkan slogan seperti "Matilah si pengkhianat" dan "Tak tahu malu."

img_title AS Kembali Serang Wilayah Iran dekat Perbatasan Irak

Tak hanya itu saja, absennya sejumlah mantan presiden Iran hingga kembali menguatnya seruan balas dendam yang digaungkan sejak Jumat lalu menjadi sorotan utama. Melansir laman Iran Internasional, Kamis 9 Juli 2026, berikut ini ulasan mengapa prosesi pemakaman Ali Khamenei mencerminkan perpecahan di kalangan elit politik Iran.  

1. Absennya Sejumlah Mantan Presiden Jadi Sorotan

img_title Trump: Peluang Kesepakatan dengan Iran Terbuka, AS Siap Bertindak Lagi jika Negosiasi Gagal

Upacara pemakaman juga memunculkan pertanyaan karena dua mantan presiden Iran, Mohammad Khatami dan Hassan Rouhani, tidak terlihat hadir. Padahal, pemerintah sebelumnya berharap prosesi tersebut menjadi simbol persatuan nasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mantan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif juga tidak menghadiri acara tersebut. Sementara itu, mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad terlihat mengikuti prosesi pemakaman yang digelar untuk umum.

Hingga kini, pemerintah Iran belum menjelaskan apakah para mantan pejabat tersebut memang memilih tidak hadir atau tidak diizinkan menghadiri acara.

Berbeda dengan Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf dan Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Iran Ruhollah Khomeini, hanya mengikuti upacara perpisahan yang berlangsung di kawasan Mosalla, Teheran, dan tidak menghadiri prosesi yang melibatkan masyarakat di jalanan.

Analis politik Ahmad Zeidabadi menilai suasana yang penuh permusuhan menjadi alasan di balik absennya sejumlah tokoh tersebut.

"Perilaku mereka yang mencederai kesakralan pemakaman dengan menghina presiden dan menteri luar negeri sudah cukup menjelaskan mengapa tokoh seperti Mohammad Khatami dan Hassan Rouhani memilih tidak hadir," ujarnya.

Ia menambahkan, jika Pezeshkian yang dikenal mendapat kepercayaan penuh dari Khamenei saja diperlakukan seperti itu, maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi apabila Khatami atau Rouhani muncul di lokasi.

Situs berita yang dekat dengan kelompok reformis, Rouydad24, menyebut absennya para mantan presiden bukan sekadar persoalan seremoni. Menurut media tersebut, hal itu merupakan hilangnya kesempatan untuk menunjukkan adanya konsensus politik di tengah salah satu momen paling sensitif yang dihadapi Iran.

2. Seruan Balas Dendam Mendominasi

Selama rangkaian upacara berkabung, banyak peserta menyerukan pembalasan terhadap Amerika Serikat, Israel, terlebih khusus untuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mereka tuding bertanggung jawab atas kematian Khamenei. Sejumlah pelayat juga membawa bendera merah yang melambangkan tekad untuk membalas dendam.

Seorang pendukung pemerintah menulis bahwa rakyat tidak akan merasa tenang melalui perundingan, melainkan lewat aksi balas dendam terhadap musuh.

Jurnalis garis keras Parisa Nasrabadi berpendapat bahwa membalas kematian Khamenei merupakan langkah penting untuk memulihkan efek gentar terhadap musuh, mencegah pembunuhan terhadap para pemimpin di masa depan, sekaligus menjaga posisi pemimpin muda Iran.

Senada dengan itu, Pemimpin Redaksi surat kabar garis keras Kayhan, Hossein Shariatmadari, mendesak pemerintah Iran secara resmi menyatakan Donald Trump, bahkan para pilot yang disebut-sebut terlibat dalam pembunuhan Khamenei, layak dihukum mati di mana pun mereka berada. Ia juga mengusulkan pemberian hadiah bagi siapa pun yang berhasil membunuh Trump.

Sementara itu, sebuah artikel opini yang dimuat Tabnak menyebut besarnya jumlah pelayat dan slogan-slogan yang diteriakkan massa menunjukkan pemerintah Iran tidak memiliki pilihan selain melakukan pembalasan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Khamenei.

3. Pemakaman Menjadi Momentum Referendum?

Sejumlah tokoh pendukung pemerintah menggambarkan besarnya jumlah pelayat sebagai bentuk dukungan rakyat terhadap Republik Islam Iran.

Anggota parlemen Jafar Ghaderi bahkan menyebutnya sebagai referendum rakyat terbesar bagi revolusi. Menurutnya, pemerintah kini harus membalas loyalitas masyarakat dengan memperbaiki kondisi ekonomi.

Namun, Ahmad Zeidabadi mempertanyakan klaim tersebut. Ia meminta penjelasan mengenai referendum yang dimaksud dan mempertanyakan dasar hukum yang menyebut adanya 'referendum jalanan'.

Pendapat serupa juga disampaikan seorang pengguna media sosial. Ia menilai pemerintah selama ini kerap menjadikan kerumunan massa sebagai bukti dukungan publik, tanpa pernah menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi objek referendum maupun landasan hukumnya.

4. Kehadiran Influencer Asing

Prosesi pemakaman juga dihadiri sejumlah jurnalis asing dan komentator yang dikenal mendukung Iran, di antaranya figur media asal Amerika Serikat Jackson Hinkle, Pemimpin Redaksi The Grayzone Max Blumenthal, serta jurnalis dan blogger asal Inggris Bushra Sheikh. Ketiganya dikenal kerap mengkritik kebijakan Barat terhadap Iran.

Kehadiran mereka mendapat sambutan positif dari para pendukung pemerintah di media sosial.

Salah satu video yang banyak dibagikan memperlihatkan Jackson Hinkle berdiri di atas panggung di Lapangan Enghelab, Teheran, memimpin massa meneriakkan slogan "Matilah Zionis", "Matilah Israel", dan "Matilah Amerika", yang kemudian diikuti oleh para pelayat.
 

Rudal Iran

Ekonom Sebut Serangan AS ke Iran Masih Jadi Sentimen Bagi Harga Minyak & Pergerakan Rupiah

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menyatakan, pergerakan rupiah memperoleh sentimen dari serangan militer AS terhadap Iran, yang menyebabkan kenaikan harga minyak

img_title
VoxPop.co.id
31 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut