Taruna Akmil Bakal Dilibatkan Latih Siswa Sekolah Rakyat, DPR Wanti-wanti Jangan Ada Militerisasi

Anggota Komisi VIII DPR RI, Sandi Fitrian Noor
Sumber :
  • dok. istimewa

Jakarta, VoxPop – Rencana Kementerian Sosial (Kemensos) RI yang akan melibatkan Taruna Akmil dalam pelatihan siswa Sekolah Rakyat (SR) mendapat tanggapan berbagai pihak. 

img_title DPR Tegaskan Kenaikan Tukin TNI hingga 90 Persen Tak Ganggu Efisiensi Anggaran, Ini Alasannya

Anggota Komisi VIII DPR RI, Sandi Fitrian Noor, menyambut positif rencana Kementerian Sosial yang akan melibatkan lulusan Taruna Akademi Militer (Akmil) dalam pembinaan siswa Sekolah Rakyat. 

Menurutnya, upaya membangun kedisiplinan, jiwa kepemimpinan, nasionalisme, dan semangat cinta tanah air merupakan kebutuhan mendesak dalam mempersiapkan generasi Indonesia yang tangguh menghadapi tantangan global.

img_title Anggota DPR Minta Kemenkes Cermati Aturan Kemasan Rokok Polos agar Selaras dengan Regulasi

Sandi mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak dimaknai sebagai upaya membawa pendekatan militer ke dalam dunia pendidikan. Menurutnya, pendidikan karakter memiliki filosofi, metode, dan tujuan yang berbeda dengan pendidikan kemiliteran.

"Saya melihat niat pemerintah sangat baik. Kita semua ingin melahirkan generasi muda yang disiplin, berintegritas, memiliki semangat kebangsaan, serta bertanggung jawab. Namun, pendidikan karakter harus tetap berada dalam koridor pedagogi yang humanis. Jangan sampai publik menangkap kesan bahwa sekolah menjadi ruang militerisasi. Yang harus ditransformasikan adalah nilai-nilai positifnya, bukan kultur militernya," ujar Sandi dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 1 Juli 2026.

img_title Datangi DPR, Buruh Usul RUU Ketenagakerjaan Atur PKWT Cuma Setahun

Komisi VIII DPR RI berkepentingan memastikan bahwa seluruh kebijakan di Sekolah Rakyat benar-benar berpijak pada kepentingan terbaik anak.

Menurut Legislator Golkar dari Dapil Kalsel 1 itu, peserta didik Sekolah Rakyat mayoritas berasal dari keluarga miskin dan rentan yang membutuhkan lingkungan pendidikan yang aman, suportif, inklusif, dan mampu memulihkan rasa percaya diri mereka.

Sandi menjelaskan bahwa berbagai penelitian internasional seperti PISA (Program Internasional Student Assesment) dan OECD (Organization Economiy Cooperation Development) menunjukkan pembentukan karakter peserta didik jauh lebih efektif apabila dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, penguatan budaya sekolah, dan hubungan positif antara pendidik dengan peserta didik. 

Oleh karena itu, pembentukan karakter tidak dapat hanya mengandalkan latihan kedisiplinan dalam waktu singkat, melainkan memerlukan proses pendidikan yang berkelanjutan.

"Disiplin memang penting, tetapi disiplin bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan. Disiplin harus lahir dari kesadaran, tanggung jawab, dan kemampuan mengendalikan diri. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi roh pembinaan di Sekolah Rakyat," tegasnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut