SOROT 576

Gangguan Jiwa karena Gawai

Anak bermain HP atau gadget.
Sumber :
  • Istimewa

RI akan gelisah ketika baterai handphone habis dan tak menemukan tempat untuk mengisi ulangnya. Ketika kuota data habis, RI juga akan melakukan berbagai cara agar tetap bisa segera terkoneksi dengan internet. Bahkan jika terpaksa meminjam uang, ia akan tetap lakukan.

img_title Seluruh Awak Kabin Garuda Dibebastugaskan Buntut HP Penumpang Hilang, FKBI: Memalukan

Telepon - smartphone - mobile phone - hp - gadget - internet - generasi milenialApapun dilakukan agar tetap bisa bermain gadget

Kisah RI sama dengan yang dialami oleh AQ, pelajar di Ciputat, Tangerang Selatan. AQ, 19 tahun, mengatakan, tak seharian penuh memegang ponsel. Tapi ia merasa tak enak jika tak memegang handphone. Pergi ke mana pun, AQ akan selalu membawa smartphone dan menggunakannya untuk bermain game, chatting, dan media sosial.

img_title Polisi Tangkap 2 Anggota Geng Penjambret Ponsel, 1 Pelaku Ternyata Masih Bocah

"Saya kecanduan hp sejak punya hp sendiri. Sejak empat tahun lalu. Paling bikin candu karena buat main game online," ujarnya kepada VoxPopnews.

AQ mengaku jadi kecanduan game karena seru dan asyik. Main game juga membuatnya merasa rileks dan terhindar dari rasa jenuh. Selain main game, ujar AQ, ia menggunakan ponsel untuk mencari tahu sesuatu, termasuk tentang pelajaran dan membaca berita.

img_title Waspada! Penipuan Modus Tabrak Lari di Jaksel, Motor Hingga Ponsel Korbannya Dibawa Kabur

Sekarang, kalau sehari tak memegang handphone, ia merasa ada yang hilang, dan membuatnya tak tahu mau melakukan apa, juga mudah jenuh.

Kehabisan pulsa data juga mulai menjadi hal yang bikin AQ tak nyaman. "Terasa beda kalau hp hanya buat menelpon dan sms saja. Ya bikin jenuh juga," ujarnya.

Seorang remaja berusia 14 tahun, RK, mengaku sejak kecil sudah dibelikan gawai oleh ibunya. Awalnya ia hanya menggunakan gawai itu untuk menonton Youtube. 

Tapi belakangan ia mulai rutin bermain game. Tapi RK mengaku masih bisa mengendalikan diri. Ia membatasi main handphone hanya tiga hingga empat jam, setelah pulang sekolah.

Tapi RK mengatakan, tak mungkin dalam sehari ia tak memegang ponsel. "Rasanya enggak enak. Kayak ada yang hilang gitu," ujarnya. RK juga memastikan, dirinya tak pernah ngambek meski kuota habis dan orangtuanya tak membelikan.

Yanti, ibu RK, menganggap tak ada yang salah dengan memberikan gawai pada anaknya. Sebab, sekarang sudah menjadi tuntutan zaman yang telah memasuki era digital. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut