- Istimewa
Dia lupa dengan hal-hal nyata di sekitarnya, sehingga membangkang pada orangtua dan sebagainya. "Hidupnya akan terfokus pada itu saja, gadget-nya," ujar Ira.
Anak juga bisa kesulitan mengatasi masalah sosialisasi dalam lingkungannya. Ia belajar dari gadget-nya. Padahal yang ada di gadget tak sesuai dengan norma-norma di dunia nyata.
Akibatnya, ketika menghadapi masalah dengan dunia nyata, anak tidak tahu cara menghadapinya. Ketika sibuk dengan gadget-nya, lama-lama ia tak mampu mengambil keputusan dengan baik.
"Jadi lama-lama dia sedih, dan kembali mencari hiburan dari situ. Akhirnya terjadi BLAAST, dan itu bisa mengarah ke depresi dan gangguan jiwa," kata dia.
Menurut Ira, anak yang mengalami kecanduan gawai bisa terjadi dari berbagai usia. Itu semua tergantung pada orangtua yang memulainya. Akan lebih bijaksana bila orangtua bisa mengendalikan kebutuhan anak.
"Kalau orangtua tidak bisa mengendalikan itu, kitanya yang kalah dibawa sama anak. Padahal anak itu masih harus di bawah bimbingan, arahan orangtua, kan seperti itu," katanya.
TY, anak yang mengalami gangguan jiwa karena gadget
Ira merasa prihatin dengan kondisi anak yang rusak akibat kecanduan gawai. Hal yang membuat anak kecanduan adalah mereka merasakan sensasi menang dan bahagia ketika bermain game. Apalagi kemudian mendapat reward, meski hanya imitasi.
"Saya terus terang prihatin ya, sedih ya. Itulah jika teknologi hanya digunakan sebatas main. Bukan berarti gawai tidak baik ya," ujarnya.
Ada sisi positif yang bisa dimanfaatkan, tetapi jika hanya terbatas pada bermain saja, itu yang bisa jadi merusak. "Sudah dalam penelitian bisa merusak otak," kata Ira.
Menurut Ferlita Sari, gangguan kejiwaan banyak ragamnya. Mulai dari yang ringan, yaitu stres, murung hingga depresi, sampai yang berat di mana orang sulit memisahkan antara realitas dan imajinasi.
Anak-anak, ujar Ferlita, juga bisa stres. Dan stres bisa disebabkan oleh apa pun. Kalau sampai adiksi berarti sudah berpengaruh ke neurotransmitter di otak, yaitu terjadi ketidakseimbangan senyawa kimia di otak.
Ferlita menduga, game yang kini semakin seru bisa menjadi penyebab mengapa sekarang banyak orang yang semakin kecanduan. Kondisi itu juga dipengaruhi usia menggunakan gadget yang semakin muda.
