- Innes Soekanto
VoxPopnews - Sudah sekitar 13 tahun sepeda onthel perak itu menemani Dr Josaphat Tetuko Sri Sumantyo beraktivitas di negeri orang.
Di Jepang, bersepeda dan berjalan kaki memang hal biasa. Tak heran, bila saban hari, Pak Josh – begitu panggilan akrab Josaphat, mengantar-jemput anaknya menggunakan sepeda bermerk Drake, itu. Dengan sepeda itu pula, Josh biasa pulang-pergi dari kediamannya ke kampus Chiba University Jepang.
Di kampus itu, Josh dipercaya mengelola Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory yang merupakan laboratorium pengembangan perangkat dan aplikasi penginderaan jarak jauh microwave terlengkap di Jepang saat ini. Lab itu mendukung segala perancangan sensor microwave (SAR), fabrikasi hingga pengoperasiannya, bahkan pengembangan aplikasi penginderaan jarak jauh.
Josh telah lama mendalami bidang antena, sensor, dan radar. Totalitas dan dedikasinya di bidang ini membuatnya meraih berbagai penghargaan. Mulai dari Nanohana Venture Competition Award, Nanohana Competition Award, hingga Chiba University President Award (kesemuanya diselenggarakan oleh Chiba University).
Jago radar
Pada awal Maret 2010 lalu, ia juga menyabet penghargaan The Society of Instrument and Control Engineers (SICE) Remote Sensing Division Award. Anggota Society of Instrument and Control Engineers (SICE) sendiri adalah lembaga-lembaga besar seperti JAXA (lembaga antariksa Jepang), NICT (Institut Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Jepang), NIES (Institut Nasional Studi Lingkungan), ISAS (Institut Ilmu Pengetahuan Antariksa dan Astronotikal), universitas-universitas, serta perusahaan-perusahaan besar perlengkapan antariksa Jepang mulai dari Mitsubishi, Toshiba, dan NEC.

Penghargaan ini dianugerahkan atas hasil penelitiannya berjudul 'Long term continuously DInSAR technique for volume change estimation of subsidence'. Dengan memakai metoda baru penginderaan synthetic aperture radar (SAR), Josh bisa mengukur perubahaan volume permukaan bumi dengan tingkat akurasi hingga millimeter kubik.
“Setiap perubahan di permukaan bumi beberapa millimeter kubik dapat dideteksi secara akurat menggunakan metoda saya dari ruang angkasa,” ujar Josh kepada VoxPopnews melalui surat elektronik. Menggunakan sensor yang disandang satelit milik Jepang: JERS-1 SAR dan ALOS PALSAR, dari ketinggian sekitar 800 km, Josaphat mampu mengetahui adanya penurunan permukaan bumi yang cukup besar di wilayah Bandung dan sekitarnya dari tahun 1993 hingga 2010.
