- ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
Di RS Omni prosesnya juga tak mudah. Sama seperti Parman, ia dan suaminya yang sedang sakit sudah antre sejak pagi. Dan ia baru mendapat giliran, setelah menunggu selama sembilan jam. Dan harus antre lagi sekitar tiga jam di apotek untuk mengambil obat. “Padahal pelayanan dokternya nggak ada 20 menit," ujarnya.
Aktivitas antre itu ia jalani selama tiga hari sebelum akhirnya mendapat rujukan untuk tes MRI. Dan setelah tiba waktunya untuk tes MRI, pihak rumah sakit mengatakan alatnya rusak. "Katanya alatnya rusak. Padahal udah antre lama sekali," ujarnya sambil menghela napas.
![]()
Sejumlah pasien menjalani operasi mata katarak saat Bakti Sosial Operasi Mata Katarak gratis di Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (22/7). (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)
Pasien pemegang BPJS memang harus ekstra sabar jika hendak berobat ke rumah sakit. Pasalnya, mereka mesti mengikuti prosedur yang panjang dan melelahkan. Mulai dari antre ambil nomor, kemudian menyerahkan surat rujukan dan kembali mengambil nomor antrean yang berbeda di loket yang lain. Baru kemudian melanjutkan antrean ke poli yang diinginkan. Tak cukup di situ. Mereka juga harus antre lagi di apotek untuk mengambil obat.
Alurnya yang panjang dan penuh perjuangan ini membuat sebagian orang enggan menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Arini (28) salah satunya. Ia memilih tidak menggunakan fasilitas BPJS miliknya. "Bedanya jauh. Diskriminasi banget, kalau pakai asuransi swasta atau tak pakai asuransi itu malah cepat. Enggak perlu datang pagi-pagi, terlihat banget perbedaannya," ujarnya kepada VoxPop.
Diskriminasi
Arini mengungkapkan, selain alasan harus antre, diskriminasi pasien BPJS juga ada pada jenis obat yang diberikan. "Obat yang dari BPJS itu obat generik. Kalau yang asuransi swasta biasanya dapat obat paten. Terus juga ada beberapa obat yang enggak dicover BPJS jadi harus kita beli," ujarnya menambahkan.
Tak hanya itu. Sejumlah peserta BPJS mengaku ada yang ditolak rumah sakit saat hendak berobat. Khofifah (39) salah satunya. Warga Senen, Jakarta Pusat yang menjadi peserta BPJS ini harus menelan pil pahit karena ditolak rumah sakit. "Waktu itu dari klinik disuruh rawat. Tetapi katanya alasannya penuh dan kita diberikan rujukan ke rumah sakit yang lokasinya jauh di Koja," ujarnya mengenang.
