Tren Kuliner Serba Mangga
"Kalau masuk wisatawan tidak ditarik tarif, pokoknya beli mangga ya bayar. Kalau bulan delapan bayarnya per kilo Rp40 ribu kalau bulan sembilan Rp35 ribu. Karena puncak panen di bulan sembilan jadi harganya berbeda per bulan," ujar Sulis.
Mangga alpukat hanya bisa dipanen selama dua bulan sepanjang tahun. Bulan Agustus dan September menjadi puncak panen mangga alpukat. Jika berkunjung di lain bulan itu, pengunjung tidak akan mendapati buah, namun hanya ribuan pohon mangga alpukat yang sedang dirawat.
"Modal awal itu Rp100 juta, panen itu hanya dua kali bulan 8 dan 9 saja. Pohonnya banyak, sampai seribuan tapi pisah-pisah tidak satu kebun, ada beberapa kebun, satu kebun ada yang 200 pohon. Karena tidak hanya kebun saya saja, saya juga sewa tanah buat kebun. Per tahun sewanya," kata Sulis.
Mangga alpukat asli Pasuruan kini menjadi buruan masyarakat. Wisatawan, menurut Sulis, bisa mencapai puluhan ribu dalam satu bulan jika masa panen tiba. Pengunjung didominasi warga Surabaya, dan Malang. Pengunjung lainnya ada dari berbagai daerah mulai dari Tangerang, Jakarta hingga Bali.
"Panennya dua bulan saja selama setahun, setiap hari 1 ton. Nah, yang luar Jawa itu dikirim oleh distributor, saya kirim ke Malang terus dikirim ke Jepang. Kalau distributor Surabaya kirim ke Singapura, yang di Pasuruan kirim ke Korea, bahkan sampai ke Madinah Arab Saudi," ujar Sulis.
Bersama suaminya Muhamad Widiono, Sulis kini memiliki enam pegawai tetap yang bertugas melakukan perawatan. Jika musim panen tiba ia menambah jumlah pegawai lepas hingga 20 orang.
"Kalau mendekati masa petik mangga bisa sampai 20 pegawai. Tidak ada aturan khusus bagi wisatawan. Pokoknya kalau datang saat di bulan delapan dan sembilan saja, ya itu aturannya. Karena kalau di bulan lain itu ya hanya lihat pohon tidak ada buah," jelas Sulis. (art)
