Bahasa yang Tak Pernah Takluk: Iran di Antara Pedang dan Puisinya

Sapri Sale, Pengajar tiga bahasa semitik; Arab, Ibrani dan Suryani
Sumber :
  • Istimewa/Sapri Sale

Saat ini, Iran adalah jantung dari 110 juta penutur bahasa Persia yang tersebar di Iran, Afghanistan, dan Tajikistan. Seorang penutur di Teheran dapat berkomunikasi dengan mudah dengan seorang penutur di Kabul, meskipus politik modern berusaha memisahkan mereka dengan nama-nama seperti Bahasa Dari dan Tajik. Dalam perang proksi dan ketegangan regional, Iran menggunakan ikatan budaya ini sebagai jembatan kekuatan lunak (soft power). Mereka tidak hanya menawarkan dukungan militer kepada sekutu di Lebanon, Suriah, atau Yaman, tetapi juga menawarkan akses ke sebuah jaringan peradaban yang lebih besar, yang akar sejarahnya melampaui batas-batas negara modern.

img_title Ekonom Sebut Serangan AS ke Iran Masih Jadi Sentimen Bagi Harga Minyak & Pergerakan Rupiah

Tiga Pilar Ketahanan: Puisi, Fleksibilitas, dan Prestise

Mengapa posisi Iran terasa begitu kokoh meskipun menghadapi tekanan ekonomi dan militer yang luar biasa? Karena mereka berdiri di atas tiga pilar yang sama yang membuat bahasa mereka bertahan, seperti yang diuraikan dalam buku-buku:

img_title AS Kembali Serang Iran

Hafez Shirazi (1325–1390) adalah seorang penyair lirik Persia yang karya-karyanya yang terkumpul dianggap oleh banyak orang Iran sebagai salah satu puncak tertinggi sastra Persia. Karya-karyanya sering ditemukan di rumah-rumah penutur bahasa Persia, yang menghafal puisi-puisinya dan menggunakannya sebagai peribahasa serta ungkapan sehari-hari. Kehidupan dan puisi-puisinya telah menjadi objek banyak analisis, komentar, dan interpretasi, serta memengaruhi penulisan Persia setelah abad ke-14 lebih daripada penulis Persia lainnya.

Hafez paling dikenal melalui Divān-nya, yaitu kumpulan puisi-puisinya yang masih tersisa dan kemungkinan disusun setelah wafatnya. Karya-karyanya dapat digambarkan sebagai “antinomian” dan, dalam penggunaan istilah abad pertengahan, bersifat “teosofis”; istilah “teosofi” pada abad ke-13 dan ke-14 digunakan untuk merujuk pada karya-karya mistik oleh “penulis yang hanya terinspirasi oleh kitab-kitab suci Islam” (berbeda dengan teologi). Hafez terutama menulis dalam genre sastra puisi lirik atau ghazal, yang merupakan gaya ideal untuk mengekspresikan ekstase inspirasi ilahi dalam bentuk mistik puisi cinta. Ia adalah seorang sufi.

img_title AS Kembali Serang Wilayah Iran dekat Perbatasan Irak

Pertama adalah Puisi (Tradisi Sastra): Iran memiliki banyak pujangga sepeti Sa'di Shirazi (c. 1210–1291/1292) adalah penyair dan moralis Persia terkemuka dari abad pertengahan, yang dikenal sebagai salah satu guru sastra klasik terbesar dengan julukan "Ostâd-e Soxan" (Sang Ahli Kata). Karya utamanya, Bustan (Kebun Buah) dan Gulistan (Taman Mawar), menggabungkan prosa dan puisi yang kaya akan nilai moral, kebijaksanaan, dan kisah-kisah perjalanan, Hafez Shirazi (1325–1390) adalah seorang penyair lirik Persia yang karya-karyanya yang terkumpul dianggap oleh mayoritas orang Iran sebagai salah satu puncak tertinggi sastra Persia. Karya-karyanya ditemukan hampir di semua rumah-rumah penutur bahasa Persia, yang menghafal puisi-puisinya dan menggunakannya sebagai peribahasa serta ungkapan sehari-hari.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut