Kemeriahan Ramadan Hanya Ada di Indonesia
- VoxPop/M Ali Wafa
Selain itu ada modal historis yang juga kuat. Indonesia itu negara yang memiliki sejarah yang unik. Sejarah unik itu karena dia pernah dijajah 350 tahun oleh belanda.
Kenapa demikian?
Jadi kesadaran kolektifnya sebagai warga yang pernah terjajah itu melupakan perbedaan, bahkan melupakan perbedaan agamanya juga. Meskipun anda beragama Islam, Hindu, Budha, Kristiani, tapi kita sama-sama mengangkat senjata, sama-sama mempertaruhkan nyawa untuk negara kita. jadi saya pikir ini modal historis yang sangat luar biasa.
Lalu, Indonesia ini memiliki tokoh-tokoh intelektual yang mengggabungkan pendekatan "intelektual" dan "kharismatik." Artinya gini, ada di beberapa negara memiliki ulama besar tapi kalau soal manajemen itu tidak jalan. Begitu juga sebaliknya, misalnya Turki, di sana kan dikenal pemimpinnya sekuler, tapi dikasih soal agama tidak berjalan. Tapi kita di Indonesia, tokoh masyarakat, tokoh agama kita dikasih manajemen bisa, dikasih keislaman juga bisa.
Salah satu keuntungan lainnya, Indonesia ini berada jauh di negara pusat islam. Sehingga kita belajar Islam itu dari berbagai negara. Jadi kalau saya katakan, Indonesia itu muara pengetahuan dari Timur dan Barat. Jadi separuh intelektual Muslim kita belajar dari Amerika dan Eropa, separuhnya intelektual Muslim kita belajar dari Mesir. Jadi Indonesia itu tidak bisa dikatakan Islam Timur Tengah, tapi kita juga tidak bisa disebut kiblatnya ke Barat. Barat dan Timur jadi satu di sini.
![]()
Contoh konkretnya seperti apa?
Di sini itu ada simbol Pak Quraish Shihab dari Timur Tengah, di sini juga ada simbol alm. Pak Harun Nasution dari Barat. Dan Keduanya membahas tentang Muhammad Abduh. Teologi yang berkembang di Indonesia atau faktor yang menjadi penentu para intelektual di Indonesia ini, kita didominasi oleh Abduh, pengaruh Abduhisme itu sangat kental. Makanya kita berbeda dengan Malaysia misalnya, beda dengan Singapura, beda dengan Brunai Darussalam. Secara teologinya tetangga kita itu adalah Asy’ari, kita sudah Muhammad Abduh.
Abduh itu dua lapis lebih Mu’tazilah dari pada Mu’tazilah itu sendiri. Kan ada yang paling itu fatalisme, kedua Asy’ari, ketiga itu Asyari Matridi, keempat Bukhara Maturidi, kelima adalah Mu’tazilah, nah, terakhir itu Abduh. Tapi jumpingnya itu jauh. Nah, Pak Quraish Shihab membawa tafsir Muhammad Abduh, Prof. Harun Nasution membawa teologi Abduh ke Indonesia, dan itu digodok di UIN Jakarta dan UIN Jogja. Alumni-alumni UIN Jogja dan UIN Jakarta itu kemudian membuka cabang, seperti di IAIN-IAIN dan STAIN-STAIN di seluruh Indonesia.
