Kemeriahan Ramadan Hanya Ada di Indonesia
- VoxPop/M Ali Wafa
Jadi cara untuk membubarkan Indonesia hanya dengan cara memecahbelah umat Islam di Indonesia. Cara memecah belah Indonesia itu seperti yang sekarang terjadi ini. Saling kafir-mengkafirkan satu sama lain, saling membid’ah-bid’ahkan, mungkin boleh jadi kelompok-kelompok garis keras di Indonesia itu tidak sadar kalau dia bisa menjadi kuda tunggangan untuk menghancurkan Indonesia.
Coba lihat, kenapa kelompok Islam moderat di Indonesia sekarang dibidik satu persatu? Pak Quraish dibilang Liberal-Syiah, Pak Komarudin Hidayat dibilang Syiah, saya pun juga dikatakan macam-macam lah. Nah, itu maksud yang ingin saya sampaikan, jangan sampai kita ini (masyarakat) ikut menambah.
Bagaimana dengan rilis Menteri Agama soal 200 mubalig?
Itu, misalnya kasus 200 mubalig itu. itu kan juga bisa menjadi kuda tunggangan buat kelompok-kelompok yang memang menginginkan Indonesia itu bisa utuh. Walaupun niat Pak Menteri Agama itu baik, saya yakin niatnya baik, tapi kan itu sempat jadi polemik. Tapi, alhamdulillah Pak menterinya bisa arif, dan lapang dada menerima masukan-masukan dari kita dari MUI, dan menyerahkan permasalahan itu kepada Majelis Ulama. Dan memang seharusnya itu wilayahnya Majelis Ulama. Sekian lama saya di Dirjen dan Wamen godaan untuk membuat itu sejak dulu itu ada, tapi saya sudah meyakini bahwa ini pasti akan menimbulkan kontroversi.
Lalu apa yang bisa dilakukan agar dapat menekan gerakan radikal di tengah masyarakat saat ini?
Saya kira jangan juga kita gampang menuding orang sebagai kelompok Islam garis keras. Sebab harus hati-hati kita ini. Saya melihatnya ada dua kekuatan di Indonesia, pertama meningkatnya kekuatan hardliner, tapi juga meningkatnya kesadaran beragama umat manusia. Jadi saat ini terjadi pembengkakan kualitas umat Islam. Anak-anak kedokteran, anak-anak teknik itu mereka sudah rajin membaca, kemudian para santri juga banyak yang masuk ke kedokteran atau pun teknik, dan itu semua otomatis semuanya akan dibawa pada Islam.
Dan yang seperti itu bukan hardliner, hanya memang karena kesadaran kolektif tentang keislamannya, maka dia seperti tampil lebih hijau dari yang lainnya, padahal itu tidak identik. Menurut saya memang ada kelompok-kelompok umat Islam yang memang mencintai negerinya, mencintai bangsanya, mencintai indonesia ini. Tetapi,di sisi lain memang ada kelompok-kelompok hardliner yang transnasional itu.
