Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA.

Kemeriahan Ramadan Hanya Ada di Indonesia

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar
Sumber :
  • VoxPop/M Ali Wafa

Jadi pemahaman kualitas keislaman juga berbeda?

img_title Imam Besar Masjid Istiqlal: Corona Bukan Azab Jangan Dipolitisir

Iya, sebenarnya mereka ini tidak sama. Mereka sama-sama menampilkan ayat-ayat tertentu. Tapi satu kelompok yang memang ingin menafikan Indonesia, dan satu kelompok lagi berpikiran I don’t care about Indonesia, tapi Indonesia itu adalah negara kami, saya hanya mau menguatkan Islam di Indonesia. Kelompok terakhir kalau disuruh bikin Khalifah Islamiyah mereka tidak mau. Kalau ditanya apakah dia Pancasila, dia mengaku Pancasila, tapi dia akan tetap menjawab, saya ini Islam, saya ingin mengembangkan Islam di Indonesia. Untuk yang seperti ini berbeda dengan yang lainnya itu, kalau yang lainnya prioritasnya ya Islam, mereka tak akan peduli apa itu Pancasila.

Jadi ada kelompok yang memang membengkakkan kualitas Islam, yaitu mereka itu rata-rata yang berasal dari santri. Dia tidak peduli dengan apa pun, apa saja yang dia lakukan yang penting bagaimana dia bisa mendakwahkan alquran, mendakwahkan tentang Islam, yang terpenting buat dia bagaimana dia bisa melakukan nilai-nilai agama Islam dengan baik tanpa adanya hambatan. Dan bagi saya kompetible, gak usah lagi menggugat Pancasila, gak usah macam-macam lagi tuntutannya. Nah ini mereka yang masuk dalam pembengkakan kualitas itu.

img_title Imam Besar Masjid Istiqlal: Indonesia adalah Satu Bangsa

Tapi kalau kelompok hardliner, transnasionalnya itu harus mengidentifikasikan diri dengan kelompok negara lain. Nah jadi dua kelompok itu harus dibedakan. Sebab mereka memang tak sama. Sering kali teman-teman menyamakan itu, dan saya juga sering menyampaikan hal ini kepada bapak presiden, bahwa kita tidak boleh sampai salah memotret. Bahwa ada dua kekuatan di Indonesia, yang sama-sama membawa isu Quran, hadist, dan Islam. Kelompok ini didorong oleh pembengkakan kualitas keislaman karena memang basicnya adalah santri, atau bapaknya kyai, dan seterusnya, sehingga otomatis kesadaran keagamaannya tinggi. Tapi jangan curigai mereka, sebab dia tidak mungkin membikin negara baru atau negara Islam, nggak. Hanya dia terpicu oleh kesadarannya. Ada orang yang moderat karena abangan, abangan itu bisa menjadi moderat kan. tapi ini bukan abangan, dia santri tapi dia kesadaran dia tentang nasionalismenya itu kuat, itu beda tuh. Ini kalau Cliver Gate ada pasti dia membuat satu klasifikasi kelas baru di indonesia, kelas baru itu adalah abangan yang sudah menyantri. Jadi kalau dulu kan ada santri abangan, kalau sekarang itu ada abangan yang sudah menyantri.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut