Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA.

Kemeriahan Ramadan Hanya Ada di Indonesia

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar
Sumber :
  • VoxPop/M Ali Wafa

Mengapa Anda begitu yakin Indonesia bisa menjadi pusat peradaban Islam?
Ada beberapa alasannya. Pertama, Indonesia itu jauh dari pusat konflik. Pusat konflik itu di Timur Tengah khususnya di kawasan Israel. Jadi kita ini harus bersyukur, abunya pun tak terkena ke kita. Ibarat gunung berapi kan, kita tidak terkena abunya.  Kedua, negara kita mayoritas penduduknya Islam, bahkan terbesar di dunia. Seperlima penduduk dunia Islam itu ada di Indonesia, tentu itu luar biasa.

img_title Terpikat Muslimah Baik, Pria Korsel Ikhlas Pindah Agama

Ketiga, Islam di negara indonesia ini mayoritas mutlak itu adalah Sunni, sekitar 90 persen itu Sunni. Lebihnya itu ada Syiah, ada Wahabi. Meskipun nanti ada organisasi islam seperti NU dan Muhammadiyah, tapi itu adalah Sunni. Nah, bandingkan dengan seperti di Libanon, di sana itu 50 persen Sunni dan 50 persen Syiah. Jadi di Libanon itu, selain perang dengan Israel karena Israel ada musuh bebuyutannya, diantara mereka juga berperang, jadi atas-bawah perang, kanan-kiri perang. Jadi tidak pernah tentram negeri itu. Pura-pura damai, tapi sesungguhnya gersang. Tapi kalau kita, damainnya itu indah betul.

Tiga hal itu sudah bisa menjadi dasar kuat untuk membangun peradaban Islam?
Masih banyak lagi. Hal lainnya adalah Indonesia ini negara maritim, Ini yang sangat penting. Semua agama turun di negara yang berkultur kontinental. Masyarakat dengan kultur kontinental itu strategi sosialnya itu bertingkat-tingkat kastanya. Tapi kalau kita ini, kan dikenal sebagai masyarakat yang egaliterian. Kenapa demikian, karena kita masyarakat pantai.

img_title Istiqlal Bisa Jadi Kiblat Peradaban Umat Islam Dunia

Dalam filosofi kultur maritim, dimana ada pantai, maka di situ bebas bagi kita manambatkan perahu. Di mana ada sungai air tawar, di situ bebas orang mengambil air tawarnya, iyaa kan. Jadi kita ini sudah sangat terbiasa dengan kebersamaan. Nah, kalau di sana kan tidak demikian, sejauh mata raja memandang, di situ lah tanah raja. Kalau di kita kan tidak demikian, laut itu lautnya Tuhan, tidak bisa dikuasai sendirian. Jadi, Pantainya milik bersama, air tawar milik bersama, api pun milik bersama, itu sangat Islami sekali.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut