SOROT 352

Mudik Asyik di Selatan Jawa

Pos penjagaan pertama di Masjid Tiban, Turen, Malang
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Dyah Ayu Pitaloka


img_title Mencicipi Kuliner Martabak Orins Gondangdia

Malang

Wisata religi, museum, dan kebun binatang

Malang sebagai kota kecil di Jawa Timur, jadi salah satu destinasi utama mudik saat Lebaran. Sejumlah sarana transportasi, seperti enam Kereta api kelas ekonomi dan bisnis, dari arah Jakarta tujuan Malang telah penuh terpesan sepekan menjelang 17 Juli 2015, Hari Raya Idul Fitri.

Saat mudik, ada sejumlah wahana wisata alternatif yang bisa dijadikan jujukan, untuk piknik sekaligus menambah wawasan. Berikut beberapa tujuan wisata alternatif di Malang:
 
Museum Malang Tempo Doeloe
Jalan Gajah Mada, Malang.

Jika memasuki Malang via jalan darat, pintu utama dari arah Surabaya adalah melalui Singosari, Lawang, dan Kota Malang. Mengunjungi Museum Malang Tempo Doeloe tak akan menyulitkan pengunjung yang ingin menghabiskan waktu di jantung Kota Malang.

Museum yang baru berusia tiga tahun itu ada di Jalan Gadjah Mada, tepat di belakang gedung DPRD dan Balaikota Malang. Di dalamnya, pengunjung bisa mendapatkan informasi lengkap sejarah kota Malang dimulai dari era prasejarah di sekitar 1.500 juta tahun silam.

Kemudian, beranjak ke masa Kerajaan Mataram, Singosari, Kanjuruhan hingga ke masa kolonial Belanda sekitar tahun 1700, masa perjuangan, tahun 1940an, dan berakhir di masa Malang Tempo Doeloe usai kemerdekaan.
 
“Ada sekitar 7.000 koleksi di dalamnya, semuanya mengisahkan sejarah terbentuknya Malang, dulu hingga sekarang,” kata Dwi Cahyono, pemilik Museum Malang Tempo Doeloe.

img_title Brongkos Koyor Handayani yang Ngangenin

Aneka sampul majalah Djawa Baroe di Museum Malang Tempo Doeloe

Aneka sampul majalah Djawa Baroe di Museum Malang Tempo Doeloe. Foto: VoxPop.co.id/Dyah Ayu Pitaloka
img_title Ini Lima Tren Wisata Kuliner 2016

Setiap masa, dibuktikan dengan penemuan artefak, fosil dan dokumen penguat sejarah. Pengunjung bisa mengetahui silsilah raja-raja Majapahit, Bupati Malang pertama sejak tahun 1820an ketika masih dijabat Belanda, lengkap dengan foto dan nama, hingga perubahan lambang Kota Malang, dari lambang awal berupa Singa bermahkota dengan semboyan Malang Nominor Sursum Moveor (Malang Namaku, Maju Tujuanku), hingga beralih dengan lambang tugu dan semboyan Malangkucecwara, berarti Tuhan Menghancurkan yang Bathil, tahun 1960an.
 
Terbagi dalam sekitar 20 ruangan berbeda, di dalamnya juga memamerkan sejumlah temuan di masa penjajahan Jepang. Di Malang, Jepang yang hanya masuk sekitar 6 bulan, tapi menyisakan banyak kekejaman dibandingkan Belanda.

“Ada koleksi majalah Djawa Baroe, alat propaganda Jepang di Malang. Banyak warga pribumi dan juga Belanda yang ditahan jika menentang Jepang,” kata Dwi.
 
Di akhir perjalanan, ada sejumlah lapak milik penjual tradisional Malang Tempo Doeloe. Mereka berjualan aneka makanan dan mainan lawas, seperti umbul, aneka mainan dari bambu, batik lawas Malangan hingga jajanan pasar khas Malang, yang bisa dibeli pengunjung. Kondisi itu menggambarkan pasar lawas Malang di tahun 1970an.

Untuk masuk ke museum ini, pengunjung dikenakan tiket antara Rp10-20 ribu, dari pagi hingga petang. Museum libur pada 17 Juli dan 18 Juli 2015.

Batu Secret Zoo
Jalan Oro-Oro Ombo 9, Kota Batu, Jawa Timur

Jika hendak ke luar Malang ke arah utara, ada baiknya menyempatkan diri mampir ke Kota Batu. Kota dingin yang dahulu populer dengan sentra apel dan aneka produk sayur mayur itu, kini mulai berubah menjadi kota wisata, dengan berbagai lokasi wisata edukasi buatan manusia.

Salah satunya adalah Jatim Park 2, yang di dalamnya menyediakan Batu Secret Zoo serta Museum Satwa.

“Batu Secret Zoo ini kebun binatang dengan sekitar 130 jenis satwa, jumlah total ada 1.000 ekor satwa,” kata Mas Agung Sartiko, Guest Relation Officer Jatim Park II.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut