- VoxPop.co.id/Dyah Ayu Pitaloka
![]()
Soal menu makanannya, Inggil punya menu andalan, yaitu pecel terong. Makanan itu, menurut sejarahnya, banyak dimakan pejuang Malang saat berperang melawan Belanda.
Terong yang mudah didapat dengan gratis lantaran tumbuh di pekarangan rumah, sempat dikabarkan sebagai makanan tak bergizi oleh Belanda, untuk melemahkan kondisi tubuh pejuang. Di tangan ibu rumah tangga Malang, terong disulap menjadi pecel yang lezat dan penuh gizi,
“Ini resep warisan dari ibu saya. Pecel terong tidak menyebabkan kolesterol karena tidak pakai kacang,” katanya.
Pecel terong menggunakan kemiri, yang dimatangkan dengan asap. Proses membuat bumbu pecel ini, menurut Dwi, harus diolah hingga dua hari lamanya. Proses yang rumit bisa jadi terbayar dengan cita rasa pecel terong yang gurih sekaligus pedas. Pecel terong Inggil disajikan langsung diatas cobek dari kayu, dengan terong, kemangi, ayam atau telur.
Selain pecel terong, aneka masakan rumahan lain juga bisa dipilih di Inggil. Ada aneka botok, pepes, nasi jagung, mendol, dan aneka minuman jamu tradisional seperti beras kencur, kunir dan asem yang menyegarkan dan sehat.
Inggil Museum Resto tutup pada saat Lebaran dan hari pertama setelah Lebaran. Setalah itu, restoran yang menempati rumah lawas buatan tahun 1928 itu buka setiap hari dari pukul 10 pagi hingga pukul 22:00 malam.
Malang Strudel
Jalan Raya Ardi Mulyo No. 14, Singosari
Selain makanan berat, Malang juga menyuguhkan aneka kudapan untuk buah tangan. Ada banyak pusat oleh baru bermunculan setiap tahun. Salah satunya adalah Malang Strudel, toko oleh-oleh milik artis ibu kota, Teuku Wisnu.
Di Malang, ada dua outlet Malang Strudel, yaitu di Jalan Soekarno Hatta 2 di Kecamatan Blimbing, Kota Malang dan di Jalan Ardimulyo Kecamatan Singosari Kabupaten Malang.
“Strudel ini, kue khas Austria dengan isian apel. Karena Malang punya stok buah apel yang melimpah, jadi kami bikin Malang Strudel ini," kata Farisal Dony, Marketing Malang Strudel.
![]()
