- VoxPop.co.id/Dyah Ayu Pitaloka
“Lebaran ini ada yang baru, kubah raksasa kami sudah terpasang, jembatan penghubung lantai 5 ke 7 juga sudah jadi dan ada tambahan dua ruangan baru di lantai 7,” kata Iphoeng HD Purwanto, Humas Masjid Biba’a Fadlrah, kepada VoxPop.co.id, belum lama ini.
Selama 10 hari menjelang Idul Fitri, Masjid akan kebanjiran sekitar 3.000 pengunjung yang ingin mencari Lailatul Qadar. Sekitar 1.000 diantaranya menginap di dalam masjid.
“Untuk buka dan sahur, pengurus masjid memasak dan Alhamdulilah bisa mencukupi pengunjung dan santri yang mondok," kata Iphoeng.
Namun, usai Lebaran, pengunjung bisa membeludak hingga 12 ribu per hari. Ketenaran masjid itu, menurut dia, sudah memancing banyak wisatawan asal negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura untuk datang.
Selain karena bentuknya yang unik, masjid tersebut dibangun tanpa menggunakan alat berat, dan dilakukan oleh santri pondok sendiri.
“Almarhum Kyai Romo (KH. Ahmad, pendiri pondok pesantren) berpesan, siapa pun boleh ikut beramal, walaupun hanya dengan tenaga mereka, ikut membangun masjid,” ucap Iphoeng.
Pengunjung pun tak akan bosan, sebab masjid tak kunjung berhenti membangun. Semua bagian masjid dibangun berdasarkan berbagai petunjuk yang dipercaya datang lewat mimpi pimpinan pondok pesantren semasa hidup.
“Pengunjung menyampaikan masalah ke almarhum Kyai Romo, beliau salat istikharoh, dan biasanya petunjuknya dengan membangun bagian masjid itu. Alhamdulilah, setelah membangun, masalah terselesaikan,” katanya. Tradisi yang sama saat ini dilanjutkan oleh istri almarhum Kyai Romo.
Untuk berkunjung ke masjid itu, pengunjung bisa datang kapan pun, dari pagi hingga malam. Tak ada retribusi khusus dalam bentuk tiket untuk masuk. Sebagai gantinya, pengunjung bisa membayar shodaqoh di loket administrasi dalam masjid.
Ada banyak tempat parkir yang lapang di sekitar masjid, dan penduduk setempat yang banyak berjualan aneka makanan khas Malang untuk oleh-oleh.
Wisata Kuliner
Jika sedang mudik di Malang, sasaran lain selain objek wisata, adalah berburu aneka kuliner yang memanjakan lidah dan perut. Malang punya segudang kuliner dengan cita rasa yang pantas untuk dijajal. Sebagian besar kuliner, disajikan dengan harga yang terjangkau, jika dibandingkan harga makanan di kota besar di Indonesia.
Berikut beberapa tempat kuliner baru yang bisa jadi referensi saat berlibur di Malang:
Inggil Museum Resto
Jalan Gajah Mada No.4
Dari namanya, selain menyajikan aneka masakan rumahan Malang, Inggil juga menyuguhkan koleksi dokumen, foto, dan data sejarah Malang. Pengunjung seolah diajak masuk ke gedung pertunjukan lawas Malang di era 1920an, di restoran Inggil.
“Itu gedung pertunjukan Tobong, terbuat dari bambu dan lazimnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sekarang Tobong sudah tergantikan dengan gedung permanen dengan aneka material pabrik yang membanjiri pasar,” kata Dwi Cahyono, pemilik Inggil Museum Resto.
Dwi mengaku mendapatkan Tobong dari pemilik lamanya, pemain ludruk keliling Siswo Budoyo. Tobong itu lantas didirikan di Inggil, lengkap dengan tali simpul yang mengikat pertemuan antara bambu satu dengan yang lain untuk membentuk atap dan dindingnya.
Di ujung Tobong, ada pentas yang setiap malam menyuguhkan aneka pertunjukan, mulai dari aneka tari tradisional Malangan, live music keroncong dan karawitan, sejak pukul 19:00 WIB hingga pukul 22:00 WIB.
