- VoxPop.co.id/Dwi Royanto
Koleksi peninggalan sejarah yang tersimpan antara lain; numismatika, arkeologi, geologi, koleksi emas, sejarah, etnografi, keramik, heraldika, koleksi seni, dan teknologi. Koleksi itu menunjukkan sejarah panjang tanah Jawa seiring perkembangannya.
![]()
Bangunan Museum Ranggawarsita, Semarang. Foto: VoxPop.co.id/Dwi Royanto
Semua koleksi itu tentunya menjadi daya tarik wisatawan baik lingkup lokal maupun nasional. Fungsi lain museum Ranggawarsita adalah sebagai sumber referensi para pelajar maupun tokoh pegiat sejarah.
Sejak diresmikan pada tanggal 5 Juli 1989 silam, pengelolaan museum terus mengalami pembaharuan. Hal itu dibuktikan dengan terbukanya museum tak hanya sebagai wisata sejarah, namun juga menjadi central kegiatan dan sarana bermain anak muda yang mengasyikkan.
Selain pameran rutin koleksi sejarah antar museum di Jawa Tengah, museum Ranggawarsita juga sering dijadikan arena berbagai kegiatan para pelajar dan mahasiswa.
Catur (38), salah satu petugas pengelola museum mengaku, pada momen Lebaran, museum Ranggawarsita akan libur pada H-1 Lebaran dan dibuka kembali untuk umum pada H+2 lebaran. Khusus moment libur lebaran, tiket masuk museum bahkan tetap terjangkau seperti hari-hari biasa.
Untuk tiket masuk pengunjung usia dewasa adalah Rp4.000, anak-anak Rp2.000, wisatawan domestik dan wisatawan asing adalah Rp10.000. "Kita buka mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB, " ujar dia.
Nah, bagi Anda yang hendak memanfaatkan waktu libur mudik Lebaran, tak ada salahnya jika mengunjungi museum Ranggawarsita di Kota Lumpia Semarang ini.
Soto Bangkong, kuliner ‘nostalgia’ khas Semarang
Mudik di Kota Semarang jangan lewatkan untuk menikmati hidangan Soto Bangkong. Selain menjadi ciri khas daerah ibukota Jawa Tengah, kuliner berkuah kental ini kerap menjadi ajang bernostalgia warga keturunan asli Semarang.
Alasan yang paling masuk akal kenapa soto Bangkong menjadi teman bernostalgia, karena usia soto ini telah ada sejak sebelum era kemerdekaan. Biasanya, tiap Lebaran datang, warga keturunan asli Semarang yang kini mengadu nasib di kota/negara lain kerap datang untuk merasakan ciri khas rasanya.
Sholeh Soekarno (99), selaku perintis pertama Soto Bangkong mengungkapkan, awalnya soto miliknya sudah dirintis oleh sang ayah bernama Soetorejo pada masa penjajahan Belanda. Sholeh dan ayahnya biasanya berjualan keliling saat usianya masih kecil.
