- VoxPop.co.id/Dwi Royanto
Warung ini lebih ramai jika Anda berkunjung pada malam hari. Tapi, jangan harap Anda bisa menemukan sayur di sini, sebagaimana bisa ditemukan di warung tradisional lainnya, seperti sayur asem, lalapan, sayur lodeh, atau oseng-oseng kangkung. Di sini yang ada hanya sayur tahu. Maka satu-satunya kuah adalah kuah tahu tersebut.
3. Tegal
Gedung SCS, saksi bisu sejarah perkerataapian masa Hindia Belanda
Memasuki wilayah Tegal, luangkan waktu menjelajahi kota yang satu. Memang tak banyak objek wisata di lokasi ini. Namun jika Anda mau menelaah lebih jauh sesungguhnya banyak bangunan lama kaya akan sejarah.
Tengok saja di depan Stasiun Kereta Api Tegal di, Jl. Pancasila No 2, Tegal. Di sana terdapat sebuah bangunan yang dahulunya merupakan kantor pusat SCS (Samarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij/Perusahaan Perkeretaapian Semarang-Cirebon).
Menilik sejarahnya, perkeretaapian di Hindia Belanda dimulai tahun 1864. Jalur kereta api pertama antara Semarang dan Tanggung sejauh 26 kilometer mulai dibangun pada tanggal 17 Juni 1864.
Pembangunannya diprakarsai oleh oleh “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV NISM) dipimpin oleh JP de Bordes. Diresmikan oleh Gubernur Jenderal HIndia Belanda , LAJ Baron Sloet van den Beele. Layanan kereta api dimulai 10 Agustus 1867.
Tegal dilewati oleh jalur kereta api yang dibangun oleh Semarang -Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) sepanjang 373 kilometer. Tahun 1897, SCS membeli Stasiun Tegal yang dulunya milik Java Spoorweg Maatschappij (JSM).
Perusahaan ini membuka jalur Semarang-Cirebon yang dilakukan pada tahun 1897. Pada waktu yang bersamaan SCS membangun jalur Losari-Cileduk-Mundu.
![]()
Gedung Samarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) di Tegal. FOTO: VoxPop.co.id/Dody
Pada tahun 1916 SCS membuka jalur Pekalongan-Wonopringgo. Tahun 1918, Henricus Maclaine Pont (1885 – 1971) mendapat proyek untuk merancang kantor pusat SCS di Tegal. Proyeknya sekaligus dengan renovasi stasiun Tegal yang dibangun tahun 1897.
Henricus Maclaine Pont juga merancang kampus TH Bandung (sekarang ITB). Henricus Maclaine Pont lulusan TU-Delf dan merupakan kakak kelas Thomas Karsten, ahli tata kota dan arsitek yang terkenal dari Semarang.
Dia juga yang mengundang Thomas Karsten untuk datang ke Hindia Belanda untuk membantunya. Pada masa setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya tanggal 10 September 1945, gedung ini menjadi saksi pergerakan orang-orang Tegal dalam memerangi penjajahan yaitu dengan mengibarkan bendera Merah Putih yang pada saat itu dilarang dikibarkan.
